Iyem seperti
biasa akan mendengar ocehan kaka kelas yang selalu ia dengar setiap berjalan
mengitari koridor kelas di pagi harinya. Iyem selalu memasang muka tak
senangnya yang menunjukkan ia tak sependapat dengan kata-kata yang disampaikan
oleh mereka. Memang iyem selalu mendapat julukan yang tak menyenangkan karena
namanya yang unik yaitu Parniem. Nama jawa yang tak bersahabat dengan ibukota
Jakarta. Iyem, begitu ia dipanggil disini pindah dari yogya tepatnya kota
Bantul, karena mengikuti pamannya yang bekerja swasta di Jakarta.
“ mbo ya
kenapa to.. temen-temen pada ngoloki aku….salah ne aku opo to?” ucap iyem
dengan logat kentalnya saat ku mencoba tersenyum padanya.
“ ya kamu
sabar… namanya juga jadi murid baru…itung-itung ospeknya lah….” Hiburku.
“ Kok kamu
nda ikut yang lain to…ikut ngolok aku githu…”
“ karena aku
belum punya alasan harus ngolok kamu…”
“ pokok e
kulo harus berubah…. Nabung dari hari ini, kesalon pokok e… biar nda jadi
dolanan anak-anak itu..”
“ ngikut
aja…” ucapku sambil terus tersenyum mendengar logat jawanya yang kental itu.
Tak terasa
dua bulan sudah aku berteman dengan iyem. Setiap latihan basket, iyem selalu
setia memegang botol minumku. Saat istrahat kami menyempatkan diri untuk
kekantinpun bersama-sama. Namun ada yang berubah pagi ini. Rambut Iyem yang
selalu ia ikat kuda kini terurai rapi dengan potongan tipis berponi menyamping.
Ia juga sengaja mengganti seragamnya yang mulai pudar dengan yang baru. Ia juga
tidak lagi menunduk saat melewati koridor, ia tak segan untuk tersenyum pada
orang-orang yang sebelumnya mengolokinya. Saat memasuki kelas, aku terkejut
saat melihat iyem berbeda 180 derajat. Ia duduk dibelakangku, yang dengan penuh
Tanya aku berbalik arah.
“ beda kamu
yem…” komentarku padanya saat iyem meletakkan tas selempangnya keatas meja.
“ wa.. ya
saya pengen diperen gitu lo..ya rambut saya itu modelle sama sejak saya SD
e…dadi ne pengen yang beda gitu….” Jawab Iyem
“ bukan
diperen yem, tapi different. Salut sih sama perubahan kamu sekarang..pasti
banyak yang naksir kamu yem..”
“ wa… itu
sih bonus aja…o iya Ari, maturnuwun sanget iki dah nemenin gitu, dari ne saya
pertama kali masuk sekolah, sampe sekarang kamu itu temen setunggal kulo e….”
“ sama-sama
yem…kamu itu temen cewek saya yang paling tulus buat temenan sama saya”
“ o iya,
baru nyadar saya, temen yang baek itu selalu ada saat kita jatoh, dan nda
pernah pergi saat kita seneng juga…ya toh…”
“
inggih…..igusti ayu…” ucapku dengan balasan senyum Iyem padaku. Entah mengapa
ia tampak manis hari ini dimataku, dan bertambah cantik pula dengan poni baru
itu…. Mungkinkah rasaku lebih dari seorang teman padanya…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar