Senin, 04 Februari 2013

MACAN TUTUL (Manis Cantik Turunan Bantul)


Iyem seperti biasa akan mendengar ocehan kaka kelas yang selalu ia dengar setiap berjalan mengitari koridor kelas di pagi harinya. Iyem selalu memasang muka tak senangnya yang menunjukkan ia tak sependapat dengan kata-kata yang disampaikan oleh mereka. Memang iyem selalu mendapat julukan yang tak menyenangkan karena namanya yang unik yaitu Parniem. Nama jawa yang tak bersahabat dengan ibukota Jakarta. Iyem, begitu ia dipanggil disini pindah dari yogya tepatnya kota Bantul, karena mengikuti pamannya yang bekerja swasta di Jakarta.
“ mbo ya kenapa to.. temen-temen pada ngoloki aku….salah ne aku opo to?” ucap iyem dengan logat kentalnya saat ku mencoba tersenyum padanya.
“ ya kamu sabar… namanya juga jadi murid baru…itung-itung ospeknya lah….” Hiburku.
“ Kok kamu nda ikut yang lain to…ikut ngolok aku githu…”
“ karena aku belum punya alasan harus ngolok kamu…”
“ pokok e kulo harus berubah…. Nabung dari hari ini, kesalon pokok e… biar nda jadi dolanan anak-anak itu..”
“ ngikut aja…” ucapku sambil terus tersenyum mendengar logat jawanya yang kental itu.
Tak terasa dua bulan sudah aku berteman dengan iyem. Setiap latihan basket, iyem selalu setia memegang botol minumku. Saat istrahat kami menyempatkan diri untuk kekantinpun bersama-sama. Namun ada yang berubah pagi ini. Rambut Iyem yang selalu ia ikat kuda kini terurai rapi dengan potongan tipis berponi menyamping. Ia juga sengaja mengganti seragamnya yang mulai pudar dengan yang baru. Ia juga tidak lagi menunduk saat melewati koridor, ia tak segan untuk tersenyum pada orang-orang yang sebelumnya mengolokinya. Saat memasuki kelas, aku terkejut saat melihat iyem berbeda 180 derajat. Ia duduk dibelakangku, yang dengan penuh Tanya aku berbalik arah.
“ beda kamu yem…” komentarku padanya saat iyem meletakkan tas selempangnya keatas meja.
“ wa.. ya saya pengen diperen gitu lo..ya rambut saya itu modelle sama sejak saya SD e…dadi ne pengen yang beda gitu….” Jawab Iyem
“ bukan diperen yem, tapi different. Salut sih sama perubahan kamu sekarang..pasti banyak yang naksir kamu yem..”
“ wa… itu sih bonus aja…o iya Ari, maturnuwun sanget iki dah nemenin gitu, dari ne saya pertama kali masuk sekolah, sampe sekarang kamu itu temen setunggal kulo e….”
“ sama-sama yem…kamu itu temen cewek saya yang paling tulus buat temenan sama saya”
“ o iya, baru nyadar saya, temen yang baek itu selalu ada saat kita jatoh, dan nda pernah pergi saat kita seneng juga…ya toh…”
“ inggih…..igusti ayu…” ucapku dengan balasan senyum Iyem padaku. Entah mengapa ia tampak manis hari ini dimataku, dan bertambah cantik pula dengan poni baru itu…. Mungkinkah rasaku lebih dari seorang teman padanya…..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar